Menjaga Fitrah di Tengah Gempuran Tren: Langkah Cerdas Keputrian SEMA-FSI di Panggung Dispedas!

Menjaga Fitrah di Tengah Gempuran Tren: Langkah Cerdas Keputrian SEMA-FSI di Panggung Dispedas!

Ikmalmesir.com – Keputrian Senat Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyyah dan Keputrian KBAI Mesir sukses menggelar acara Dispedas (Diskusi Perempuan Cerdas Syariah) pada Senin siang (13/7) yang bertempat di Markaz Tathwir pukul 12.00 CLT.

Acara ini diselenggarakan bertujuan sebagai wadah edukasi dan pergerakan intelektual perempuan, membentuk karakter perempuan yang kritis (Smart Deciders), serta membedah hukum fikih kontemporer perempuan lebih detail. Sesuai dengan tema yang dibawa pada acara diskusi ini ‘Membedah Isu Kecantikan dan Pakaian, dalam Perspektif Fikih Kontemporer’ dispedas juga hadir sebagai ruang diskusi interaktif untuk membekali perempuan modern dengan kecerdasan spiritual dan intelektual, agar mampu menavigasi tren kecantikan masa kini dengan percaya diri, sehat secara medis, dan berkah secara syariat.

Turut hadir juga dalam acara ini tamu undangan special, Dukturoh Nahla Al-Sa’idi. Dan beliau sempat memberikan sedikit wejangan pada opening speech nya,

Kecantikan sejatimu, wahai anak-anakku, adalah kecantikan akal dan akhlak yang beriringan dengan ketaatan pada syariat. Semoga Allah memberkahi kalian dan usaha kalian.”  

Berbeda dengan kegiatan-kegiatan yang pernah diselenggarakan oleh Senat FSI sebelumnya—yang umumnya bersifat monolog atau penyampaian satu arah, acara kali ini dikemas secara interaktif dengan sistem diskusi dua arah. Teknis pelaksanaan acara dirancang melalui pembagian peserta ke dalam beberapa kelompok kerja untuk melewati tiga sesi diskusi utama bertemakan isu kecantikan kontemporer. Salah satu tema isu kecantikann yang dibawa pada diskusi ini adalah bagaimana hukum menggunakan DNA Salmon? juga apakah boleh melakukan operasi plastik untuk masalah kesehatan?

Kemudian pada setiap sesi, masing-masing kelompok diberikan waktu khusus untuk berdiskusi, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi presentasi hasil diskusi secara bergantian. Guna menjaga kualitas dan arah diskusi, panitia telah menunjuk seorang pemantik di setiap kelompok untuk membersamai jalannya forum. Selain itu, jalannya diskusi dikawal langsung oleh dua orang pentashih, yaitu Ustadzah Hilya Alfaniya, Lc. dan Ustadzah Uci Supiani, Lc., Dipl., yang bertugas untuk mengoreksi, mengevaluasi, serta memberikan konfirmasi keilmuan atas hasil pemaparan dari tiap-tiap kelompok.

Salah satu pemateri sekaligus pentashih, Ustadzah Uci Supiani, Lc., Dipl., sempat menyoroti isu berpakaian dan estetika perempuan melalui sebuah catatan reflektif yang mendalam. Beliau menegaskan bahwa keinginan untuk menutup aurat pada hakikatnya adalah kodrat alamiah dan naluri dasar manusia yang dilandasi oleh rasa malu (fitrah), bahkan sebelum adanya batasan formal dari syariat.

Sebagai penguat, beliau merefleksikan kisah Nabi Adam dan Hawa saat berada di surga; ketika pakaian surgawi mereka terlepas, reaksi spontan yang mereka lakukan seketika itu juga adalah mencari dedaunan untuk menutupi tubuh karena adanya rasa malu yang bergejolak di dalam diri, sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran surah Al-A’raf ayat 22. Melalui analogi sejarah manusia pertama ini, beliau menekankan bahwa syariat hadir bukan untuk mengekang, melainkan untuk mengarahkan, menyempurnakan, dan memuliakan naluri suci tersebut. Oleh karena itu, menjaga cara berpakaian yang menutup aurat merupakan bentuk nyata dalam merawat martabat kemanusiaan serta menjaga fitrah suci sejak awal penciptaan.

Acara diskusi ini ditutup dengan antusiasme yang luar biasa dari para peserta. Format diskusi dua arah ini terbukti berhasil memantik daya kritis peserta, di mana mereka diberikan ruang seluas-luasnya untuk saling memberikan sanggahan, argumen, serta menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuan terhadap pemaparan kelompok lain secara sehat dan ilmiah. Dinamika debat yang aktif dan responsif ini tidak hanya menghidupkan suasana forum, tetapi juga melatih ketajaman berpikir kritis perempuan dalam menanggapi isu-isu kontemporer dari berbagai sudut pandang.

Red: Najla Maharani

You might also like